[Kuliah Om Jas] AIMA – Pengalaman Bermain yang Perlu Diperhatikan Perancang Game

Dengan mengerti jenis-jenis pengalaman bermain tersebut, setidaknya perancangan game dan pengembangan game akan makin seru karena memasukkan unsur-unsur pengalaman bermain yang biasanya terjadi pada gamer, dan itu semua terangkum di dalam AIMA. Ayo kita segera meluncur dan lantunkan… AIMA… AIMA..

1365050175000

Aimo… Aimo… neder luche

masih ingat lagu tersebut? Yup, itu lagu Aimo di Macross Frontier yang dinyanyikan oleh Ranka Lee, tapi kita tidak membahas Aimo ini, tapi kita akan membahas AIMA, yang walaupun sekilas serupa, namun tidak sama.

Lalu apa itu AIMA? AIMA adalah sebuah istilah untuk menyebutkan beberapa jenis pengalaman bermain yang telah diteliti dan dikategorisasi. Tujuan dari membahas AIMA ini yaitu adalah mengajak para perancang game berpikir secara lebih analitis terhadap game yang ingin dibuatnya. Dengan mengerti jenis-jenis pengalaman bermain tersebut, setidaknya perancangan game dan pengembangan game akan makin seru karena memasukkan unsur-unsur pengalaman bermain yang biasanya terjadi pada gamer, dan itu semua terangkum di dalam AIMA. Ayo kita segera meluncur dan lantunkan… AIMA… AIMA..


1. Agon

Agon adalah kata Yunani untuk “berjuang dalam sebuah kompetisi”. Di dalam bahasa Inggris ada sebuah kata yang mirip, yaitu “agony“, yang memiliki arti “Perjuangan dengan bersusah payah”.

AIMA Agon ini bersifat kompetitif, jadi tujuannya adalah untuk mengalahkan lawan main kita. Seringkali di dalam jenis ini dibutuhkan keahlian, ketangkasan sampai kepada strategi yang tepat untuk dapat memenangkan permainan. Lawan tersebut bisa manusia, atau di dalam game komputer bisa saja berupa AI (Artificial Intelligence) yang ditanamkan di dalam objek musuh.

Kemenangan seorang pemain di dalam Agon berarti mendemonstrasikan kemampuan pemain tersebut di dalam menguasai suatu keahlian. Contoh genre game yang memiliki AIMA Agon diantaranya Sport Game, Real Time Strategy Game, Turn Based Strategy Game, First Person Shooting, Action Game, Fighting Game, Racing Game dan masih banyak lagi, yang penting tujuannya adalah mengalahkan lawan.

Gambar berikut adalah Necronator II, salah satu game strategi kebanggaan bangsa Indonesia dari Toge Production yang berhasil menyabet penghargaan di Flash Game Summit tahun 2012. Game ini terasa AIMA Agon-nya saat menyiapkan pasukan dan strategi yang jitu untuk mengalahkan musuh.

2. Ilinx

Ilinx adalah kata Yunani untuk “pusing” atau “tidak memiliki arah”. Menciptakan disorientasi atau sesuatu di luar sistem. Pada AIMA ini, kemenangan tidak ditentukan dari suatu aturan tertentu, tetapi dari subyektivitas yang melihat atau dari trend masyarakat. Jadi, seseorang yang menang saat ini, dengan hasil yang sama belum tentu bisa menang lain waktu. Contohnya pada jika event saat ini memungkinkan orang-orang yang memiliki keahlian menembak jitu menang, belum tentu akan menang pula pada event lain yang membutuhkan kemampuan berlari cepat, jadi menangnya karena ada event tertentu yang menuntut keahlian tertentu yang berbeda pula.

Hal ini paling sulit untuk diterapkan di dalam game offline. Tapi sering kita temui pada game online, pada saat trendnya adalah memiliki sistem peperangan antar grup, maka grup yang paling banyak mengalahkan grup lain akan memiliki kemungkinan menang paling besar. Namun, bila trend berubah menjadi survival atau bertahan hidup, maka kemungkinan grup tadi menang tidak sebesar sebelumnya, karena grup yang paling baik dalam bertahanlah yang menang.

3. Mimicry

Mimicry berasal dari bahasa Inggris yang berarti peniruan. Mimicry dapat juga berarti memerankan sesuatu di luar dari sifat aslinya. Di dalam game, mimicry memiliki asumsi yaitu seseorang yang memerankan orang yang lain dari dirinya, dalam hal ini karakter di dalam game, bisa memerankan satu peranan maupun lebih dari satu peranan sesuai skenario yang telah dibuat.

Tujuan dari AIMA ini adalah menyelesaikan tugas orang yang diperankannya. Dengan menghayati kisah dan perwatakan karakter yang diperankannya, maka sang pemain dapat mengerti apa sebenarnya tujuan yang harus dicapai karakter tersebut melalui tugas-tugas yang diselesaikannya.

Memerankan karakter game tersebut bisa saja melalui akting, pemahaman karakter yang diperankan, pengambilan keputusan dan improvisasi. Jadi pemain yang memerankan karakter game tersebut biasanya berpikir untuk mengambil jalur yang mana, memilih senjata yang dipakai bahkan sampai memihak kubu yang mana. Jenis pengalaman ini memungkinkan sang pemain merasakan menjadi orang yang berbeda dari dirinya pada umumnya. Kesuksesan dalam jenis pengalaman ini mendemonstrasikan kecerdikan seseorang dan empati seseorang terhadap karakter yang diperankannya.

Contoh yang paling terlihat dari jenis pengalaman ini ada pada Role Playing Game dan Adventure Game. Kadangkala beberapa genre lain juga memasukkan unsur mimicry ini agar game tersebut lebih kaya dan berbobot. Gambar 2 sekali lagi menunjukkan salah satu Role Playing Game dari Indonesia yang telah dibuat oleh studio Enthrean Guardian, dengan judul Eternal Grace, di mana suatu saat kita berperan sebagai Razh, dan di saat lain kita berperan sebagai Millia, di mana kita dapat memilih dan menentukan nasib mereka melalui scenario yang telah disiapkan oleh pengembang. Dalam game ini AIMA mimicry-nya sangatlah kental.

4. Alea

Alea adalah Kata latin untuk “dadu”. Jadi pengalaman bermain jenis ini adalah kompetisi yang berdasarkan kesempatan atau keberuntungan. Biasanya setiap pemain memiliki probabilitas yang sama untuk menang, sehingga tidak ada pemain yang benar-benar selalu menang kecuali dia memang “orang yang paling beruntung sedunia”.

Tujuan dari AIMA Alea adalah menjadi beruntung. Alea lebih banyak ditentukan oleh “nasib” atau “dewi fortuna”. Game dengan AIMA Alea ini sangat menggantungkan diri pada “nasib”.

Kemenangan mendemonstrasikan keberuntungan seseorang atau kemungkinan pengertian seseorang tentang probabilitas. Hampir semua game yang mempergunakan kartu dan dadu memiliki jenis pengalaman ini.

Biasanya unsur ini digabungkan dengan Agon supaya tidak terlalu bergantung pada “nasib”, seperti pada Trading Card Game atau Battle Card Game seperti Yu Gi Oh!, Duel Master, Magic The Gathering, dan masih banyak lagi. Deck yang kita susun menunjukkan kemampuan analisis dan strategi kita, sedangkan permainan itu sendiri masih ditentukan oleh ketepatan kartu yang kita ambil pada waktu yang tepat pula. Contoh yang tepat selain itu adalah Trading Card Game Vandaria Wars.

Untuk mengerti lebih dalam tentang jenis-jenis pengalaman bermain ini, kita sebaiknya mengetahui beberapa genre game yang memiliki jenis pengalaman bermain tertentu yang dominan. Tabel berikut memperlihatkan jenis-jenis pengalaman bermain yang dominan pada beberapa genre game. Jenis pengalaman bermain tersebut dipadukan dengan cara paidea (bebas dan terimprovisasi) atau ludus (terstruktur) akan dominan pada beberapa genre game tertentu.

Tabel Genre Game dengan Jenis Pengalaman Bermain yang Dominan

Paidea (bebas, terimprovisasi) Ludus (terstruktur)
Agon Fighting Game, Turn Based/ Real Time Strategy Game Sport Game, Catur
Ilinx Menari, Finger Painting Selancar Air, Ski, Lompat Indah
Mimicry Role Playing Game Adventure Game
Alea Battle Card Game Card Game, Board Game

Banyak game saat ini yang mengombinasikan berbagai jenis pengalaman bermain dengan persentase yang berbeda-beda, sehingga menghasilkan pengalaman-pengalaman bermain yang seolah-olah baru. Contohnya adalah pada game Zelda: The Wind Waker. Kita akan mencoba memecah pengalaman-pengalaman bermain yang kita terima selama memainkan game ini. Komponen Mimicry terlihat jelas melalui peran pemain sebagai Link, sedangkan komponen Agon muncul pada saat pertarungan karakter utama melawan monster dan boss. Dan komponen Alea diperoleh dari item acak yang didapat saat mengeksplorasi dungeon.

Demikianlah AIMA yang ternyata terdiri dari singkatan unsur-unsur pengalaman bermain yaitu Agon, Ilinx, Mimicry dan Alea. Semoga artikel kali ini dapat menambah wawasan dan ilmu kita dalam perancangan game, nantikan artikel selanjutnya Kuliah Om Jas yang akan menambah ilmu kita.

TENTANG PENULIS
Omjas

Saya adalah seorang penggemar game sekaligus pembuat game. Sehari-hari bekerja sebagai dosen konsentrasi Pengembangan Game, Program Studi Desain Komunikasi Visual, Fakultas Teknologi Informasi di Universitas Kristen Satya Wacana. Saat ini mendirikan sebuah studio game indie yang bernama Enthrean. Karena saya penggemar JRPG, impian saya adalah membuat studio game yang bisa menyaingi ketenaran Square Enix.