China, Korea dan Jepang Terlibat “Perang” Cyber Melalui Aplikasi Instant Messaging

Dengan begitu banyaknya fitur yang ditawarkan LINE, KakaoTalk dan WeChat, sulit bagi kita untuk tidak tertarik meng-install aplikasi tersebut ke smartphone atau tablet, dan mulai berkomunikasi gratis atau memainkan game. Berikut perbandingan fitur ketiga instant messaging tersebut.

WeChat, KakaoTalk dan LINE Berlomba-lomba Menjadi Platform Sosial Baru

 

Dulu, kita yang biasa chatting biasa bertanya pada teman, apakah mereka punya YM (Yahoo! Messenger). Wajar, saat itu belum eksis yang namanya aplikasi instant messaging alternatif seperti eBuddy, Google Talk, Facebook Messenger, IM+, Palringo, WhatsAppBlackBerry Messenger, ChatON-nya Samsung, dan Catfiz yang made-in-Indonesia. Hingga yang akhir-akhir ini paling sering kita temui baik melalui pop-up iklan di smartphone, hingga menyita beberapa detik siaran televisi lokal, seperti  KakaoTalk, WeChat dan LINE.

Ketiga aplikasi komunikasi chat mobile yang terakhir penulis sebutkan memang begitu gencar penetrasinya di tengah pengguna Indonesia akhir-akhir ini. Bahkan untuk LINE yang merupakan produk besutan Naver/NHN Japan sempat membuat banyak pemerhati jejaring sosial geleng kepala, karena mampu menjaring 100 juta user hanya dalam waktu satu setengah tahun saja! Lebih cepat dibandingkan prestasi Twitter atau Facebook dalam menggalang ratusan juta user mereka.

Sebelum membicarakan ketiganya, penulis lebih suka melacaknya melalui perkembangan WhatsApp. Sejak dirilis pada Juli 2009, aplikasi yang dikembangkan oleh dua orang veteran Yahoo!, yaitu Brian Acton dan Jan Koum dan berbasis di Santa Clara, California, perlahan tumbuh dengan cara penyebaran dari-mulut-ke-mulut. Metode pemasaran yang sama seperti yang juga dijalankan Skype, karena memang baik si pengirim dan penerima pesan harus memiliki aplikasi tersebut.

Awalnya gratis, walaupun kini di-charge 99-sen, alias kurang dari Rp. 10 ribu setahun, kamu sudah mendapatkan aplikasi yang menawarkan pesan teks gratisan tak terbatas antara kedua user, fungsi yang selama ini kita kenal melalui SMS pada ponsel tradisional, atau juga sama seperti apa yang sudah Skype lakukan untuk membawa fitur penggilan internasional melalui internet yang mudah dan murah kepada khalayak luas. Dan berkat fungsi awalnya yang mirip dengan SMS, WhatsApp juga diduga menjadi salah satu sebab kenapa perkembangan SMS di beberapa negara dengan pertumbuhan internet yang cepat, menurun sangat drastis.

WhatsApp juga menjadi satu contoh aplikasi yang dikembangkan bukan atas dasar sokongan dana besar, bebas iklan dan juga promosi di awalnya, namun kini penggunanya sudah lebih dari 100 jutaan. WhatsApp memang tidak mengungkapkan berapa banyak pengguna mereka. Namun melihat dari jumlah download di beberapa pasar aplikasi setiap platform, khususnya Apple iTunes dan Google PlayStore yang melebihi 100 juta download, bisa diasumsikan pengguna WhatsApp sudah ada lebih dari 200 juta. Seandainya WhatsApp membangun platform sendiri di tengah antar muka aplikasi chatting-nya, mereka otomatis sudah menjaring ratusan juta user, dan siap menjadi sasaran empuk untuk iklan atau promosi lainnya. Namun ternyata sampai saat ini WhatsApp masih tetap bertahan tanpa sisipan iklan, dan sepertinya ke depannya pun developernya tidak ingin memasukkan iklan di sana, karena memang fokusnya adalah kesederhanaan antar muka seperti SMS.

Berkaca dari sukses WhatsApp menjaring banyak user, kembali kita yakin pada fakta yang mulai berkembang setahun belakangan… masa depan berada di platform mobile. Dengan kekuatan internet di sebuah smartphone, kita mendapatkan layanan 24/7, atau yang akan tetap online walaupun terjadi suatu bencana hebat (seperti yang menjadi latar belakang dikembangkannya LINE), secara dramatis mampu merubah hidup, dan yang pasti juga membuat luasnya dunia ini menjadi lebih kecil dan lebih dekat. Dan tentu saja, juga lebih murah. Data terakhir, hingga 18 milyar pesan tercatat dikirimkan melalui sistem WhatsApp.

Sepertinya prestasi tersebut cukup layak menempatkan WhatsApp sebagai instant messaging terbaik ya? Sebenarnya tidak juga, karena dua tahun belakangan, tidak hanya WhatsApp saja yang mencium celah perkembangan mobile tersebut, dan bukan hanya WhatsApp saja yang bisa dinikmati gratisan. Bagaimana dengan kompetitornya? Itulah yang akan kami ulas kali ini, tiga raksasa instant messaging dari Asia, yang jelas mengancam dominasi WhatsApp, yaitu LINE, KakaoTalk serta WeChat. Lebih tepatnya, ketiganya datang dari Jepang, Korea Selatan dan China. Dan yang membuatnya lebih baik dari WhatsApp adalah adanya fitur integrasi dengan jejaring sosial, sehingga menempatkan mereka “bukan sekadar” instant messaging, namun berkembang menjadi sebuah platform sosial baru dengan ratusan juta user.

Lanjut ke halaman 2 untuk LINE…

TENTANG PENULIS
Ura

Telah dikenal sejak satu dekade yang lalu melalui media game Ultima Nation. Saat itu artikel andalannya adalah panduan walktrough game-game RPG. Ura kemudian juga semakin dikenal lewat tulisannya yang idealis dan selalu konsisten pada satu aspek game, yaitu STORY - yang olehnya dianggap sebagai backbone sebuah game. Selain menggeluti dunia game, Ura juga penggemar gadget, dan dia memiliki hobi "ngoprek" smartphone.