Nonton Yuk: Serial TV Marvel Tahun 90-an

Menyambut Marvel’s Phase II yang akan dibuka perdana dengan rilisnya Iron Man 3 akhir bulan depan. Yuk, kita flashback kembali dan melihat ‘wajah’ superhero Marvel di serial TV tahun 80-an

Setelah melewati era 60-an, 70-an dan 80-an, minggu ini kita tiba di era 90-an. Belajar dari era 70-an, Marvel dan Stan Lee menyadari bahwa bukanlah hal yang mudah membawa superhero mereka ke bentuk live action. Sama seperti era sebelumnya, era ini pun Marvel kembali ke ‘jalur aman’ mereka dengan menghidupkan tokoh superhero mereka dalam film animasi.

X-Men (1992-1997)
Marvel dan Fox memulai era ini dengan merilis film animasi X-Men. Film ini menuai banyak pujian dari kritikus dan meraih rating yang sangat bagus. Dalam perjalanannya, serial ini berhasil mengadaptasi cerita seperti Days of Future Past, The Phoenix Saga, Age of Apocalypse, The Phalanx Covenant, dan The Legacy Virus.

Fantastic Four (1994-1996)
Seiring dengan kesuksesan X-Men yang tengah diraih, Marvel membawa kembali jagoan mereka, Fantastic Four. Sayangnya Marvel seperti tidak belajar dari tragedi H.E.R.B.I.E. dengan menambahkan humor yang buruk dengan memunculkan tokoh Nanny. Musim pertama serial ini pun dianggap sebagai serial yang buruk bagi banyak orang. Namun di musim keduanya, Marvel mampu memperbaiki kesalahan-kesalahan yang ada.

http://www.youtube.com/watch?v=jtD2lTGq3u4

Iron Man (1994-1996)
Seperti Fantastic Four, perjalanan awal Iron Man tidak semulus yang diharapkan. Animasi yang minim dan cerita yang orisinil, tak mampu membawa serial ini ketangga kesuksesan. Namun pada musim keduanya, Marvel berhasil membenahi apa yang salah di musim pertama.

Season 1
http://www.youtube.com/watch?v=q9g2f8f-ct4

Season 2
http://www.youtube.com/watch?v=28br26rVqww

Spider-Man (1994-1998)
Seperti X-Men, Spider-Man sangat setia dengan alur cerita komiknya. Serial ini pun sangat popular pada masanya dan berjalan selama lima musim. Tak seperti yang terjadi pada kebanyakan serial TV, serial Spider-Man berakhir bukan karena rating yang menurun tapi karena negosiasi dibalik layar yang tidak berjalan baik. Namun serial ini mampu mempertahankan kualitasnya yang bagus sepanjang musimnya.

Ultraforce (1995)
Masih dalam masanya Spider-Man (1994-1998), Marvel merilis serial Ultraforce, yang sayangnya hanya bertahan selama 13 episode.

The Incredible Hulk (1996-1997)
Satu lagi serial animasi Marvel yang kurang sukses dipasaran. The Incredible Hulk sendiri tak mampu meraih kesuksesan seperti X-Men dan Spider-Man dalam dekade ini.

http://www.youtube.com/watch?v=zrUXOs91GCs

Silver Surfer (1998)
Tak seperti tokoh Hulk atau Spider-Man yang sering diangkat ke layar kaca, untuk Silver Surfer ini merupakan kali pertama baginya diadaptasi ke serial animasi.

Meski hanya berjalan selama 13 episode, namun serial ini mampu menghadirkan tokoh-tokoh seperti Galactus, Thanos, Beta Ray Bill, Thanos, Adam Warlock, Uuatu, Gamora, Drax, dan Nova.

Spider-Man Unlimited (1999-2001)
Setelah sukses dengan The Spider-Man, Marvel pun berlanjut ke Spider-Man Unlimited. Serial ini berjalan satu musim selama dua tahun. Banyak anak-anak yang awalnya suka dengan Superhero mulai beralih ke Pokemon dan Digimon yang sedang hits pada waktu itu.

Avengers: United They Stand (1999-2000)
Era ini pun akhirnya ditutup dengan Avengers: United They Stand, dan ini menjadi debut pertama Avengers di layar kaca. Menampilkan banyak tokoh-tokoh hebat Marvel, ternyata tak membuat serial ini dicintai. Alasan utama serial ini sangat dibenci adalah karena serial ini dibuat untuk tujuan menjual mainan. Karakter seperti Vision dan Falcon diberi set armor baru yang tampak hebat, dengan tujuan menjual set mainan barunya, namun dalam ceritanya armor tersebut sangat tidak berguna. Hal tersebut pun berdampak dengan jatuhnya rating dari serial ini.

http://www.youtube.com/watch?v=u19SgO4dQYU

Share this article

TENTANG PENULIS
Reza

Art Director di TouchOn Magazine (nama baru dari Zigma dan Omega) Memiliki interest yang besar dalam dunia design dan photography. Merupakan penggemar berat film serta salah satu penggebuk drum di redaksi yang kini menikmati hobi baru sebagai penulis.