Liputan Spesial: Review PS VR Demo dari PlayStation Media Gathering Jakarta

Kemarin, Duniaku.net menjajal PS VR di acara PlayStation Media Gathering. Dan bagaimanakah pengalaman bermain memakai PS VR, apakah layak beli? Simak review PS VR yang satu ini!

1476934240000

4

Rez Infinite

review PS VR Rez

Dari keempat game yang saya sempat coba, secara pribadi Rez Infinite lah yang terasa layaknya “demo dari sebuah game komplit”, dan bukan potongan-potongan adegan tertentu atau tech demo saja.

Rez Infinite sendiri adalah remake dari game shooter-rhythm Rez yang rilis 2001 untuk PS2 dan Dreamcast, jadi faktor “keutuhan” kemungkinan besar terasa karena basis game-nya sudah ada sejak 15 tahun yang lalu. Bagaimana pun juga, dalam review PS VR kali ini demo Rez lah yang paling saya nikmati.

Implementasi VR, walau sederhana, namun tetap efektif dan menyenangkan. Mirip RIGS, untuk membidik musuh-musuh yang muncul kamu harus mengarahkan kepalamu ke posisi mereka. Tapi yang membedakan adalah musuh yang terus bermunculan dan warna-warni heboh yang menghiasi layar, membuat permainan terasa heboh dan mendorongmu menggunakan serat-serat otot leher yang ada untuk bisa mendeteksi dan menembak setiap objek yang muncul.

Setiap tembakan yang kamu hasilkan juga memberikan sound effect yang menyatu dengan musik, sehingga kamu akan selalu menunggu-nunggu adanya sesuatu yang bisa ditembak. Sayangnya saya tidak bisa mendengar musiknya karena tidak mengenakan headphone selama bermain.

review PS VR Batman

Editor kami, Mas Arya, mencicipi apa rasanya menjadi Batman

Soal Batman: Arkham VR, saya sendiri tidak sempat mencobanya, namun berdasarkan apa yang saya dengar dari para peserta Playstation Media Gathering, tidak banyak yang bisa kamu lakukan di game tersebut. Bahkan melempar Batarang pun terasa membosankan karena lemparanmu akan diarahkan secara otomatis. Hal tersebut juga merupakan komplain yang umum dilontarkan oleh ulasan-ulasan dari media game luar negeri.

Sulit sebenarnya untuk melakukan review PS VR bagi saya, karena pengalaman dan perasaan selama menggunakan perangkat semacam ini merupakan hal yang sangat subjektif, tergantung dari keingintahuan pengguna akan platform baru serta apakah mata/tubuhmu bisa tahan selama memakainya atau tidak.

Namun bagi saya, alat ini terasa “tepat” untuk memainkan game simulasi seperti Driveclub VR — dan RIGS juga sebagai sebuah “simulator palsu. Tapi di akhir hari, itu hanyalah sebuah monitor yang kamu tempelkan ke mukamu. Faktor utama untuk bisa menyajikan pengalaman yang realistis, yaitu feedback fisik yang mumpuni, masih sangat dibutuhkan untuk perangkat VR, kontroler DualShock 4 dan PS Move saja masih belum cukup untuk menggantikannya.

Ukuran perangkat pun bisa menjadi kurang nyaman bagi yang berkepala kecil, karena terkadang headset PS VR gagal mencengkram kepala saya sehingga membuat lensa jadi terlihat kurang fokus dan agak kabur.

Sejauh ini, secara pribadi saya belum bisa merekomendasikanmu mengeluarkan uang untuk memiliki sebuah PS VR, terutama mengingat harga PS VR yang mencapai lebih dari 6 juta Rupiah, melebihi harga PS4 sendiri. Tapi kalau ada demo yang terbuka untuk umum atau kamu punya teman sultan yang sudah beli, tidak ada salahnya mencoba karena VR masih tetap merupakan gimmick yang unik sekalipun masih prematur.

Saat ini Sony PlayStation VR sudah tersedia di Sony Center dan distributor resmi Sony sejak tanggal 13 Oktober, beserta di toko-toko game di sekitarmu.

TENTANG PENULIS
sidharta

Jadi penulis karena nggak bisa koding.