Review Naura dan Genk Juara: Film Musikal Keluarga Berhati Besar

Mendengar musikal film Naura dan Genk Juara ini bikin teringat percobaan sains dan majalah Bobo dan juga ingat Petualangan Sherina. Film berhati besar yang menyenangkan. Ajak anakmu nonton (kalau udah punya anak). Kalau belum nonton aja gpp~

1511056859000
naura dan genk juara

Sumber: Bobo

Film khusus anak-anak sangat langka ada di bioskop-bioskop Indonesia, apalagi dipresentasikan secara musikal. Simak review Naura dan Genk Juara berikut.

Siapa yang tidak kenal Petualangan Sherina (2000)? Film arahan Riri Riza dengan aktris Sherina Munaf tersebut jadi film paling dicintai publik Indonesia sampai sekarang. Selain kontennya yang friendly untuk keluarga, Petualangan Sherina juga jadi titik balik dari kelamnya perfilman Indonesia.

Sebenarnya tak bisa menyamakan film legendaris tersebut dengan Naura dan Genk Juara. Memang, ada banyak persamaan di antara keduanya, salah satunya sama-sama film musikal. Namun setiap film punya kekuatannya masing-masing. Tinggal yang penting, apakah kita menikmati film tersebut atau tidak.

Naura dan Genk Juara yang disutradarai oleh Eugene Panji (Cita-Citaku Setinggi Tanah, 2012) ini boleh jadi oase di tengah keringnya film anak Indonesia di bioskop. Sebelum lebih lanjut masuk pada review Naura dan Genk Juara, coba pantau dulu sinopsisnya berikut.

Sinopsis

Naura (Adyla Rafa Naura Ayu), Okky (Joshua Rundengan), dan Bimo (Vickram Priyono) adalah siswa brilian di sekolahnya. Dalam perlombaan sains, ketiganya berhasil menang dengan produk inovasi masing-masing: Naura dengan gelang GPS, Okky dengan roket air, dan Bimo dengan drone yang bisa terbang mengikuti sensor.

Oleh karena jadi juara, mereka kemudian jadi perwakilan sekolah untuk ikut Kemah Kreatif di bumi perkemahan Situ Gunung, berlomba dengan sekolah lain. Tapi Bimo anaknya sombong banget sehingga mereka pun bertengkar.

Di saat itu juga, rombongan pencuri satwa liar, Trio Licik sedang menjalankan aksinya. Ketiga Genk Juara ini pun bekerja sama dengan Kipli (Andryan Sulaiman), seorang ranger cilik untuk mencegah perbuatan para pencuri fauna tadi.

Film Musikal untuk Keluarga

Sumber: Youtube

Film yang dibuat untuk penonton anak-anak dengan konten Indonesia sangat jarang sekali hadir di bioskop Indonesia, apalagi film musikal. Pascarilis Petualangan Sherina 17 tahun lalu, kita menonton film-film musikal seperti Joshua Oh Joshua (2001), Rumah Tanpa Jendela (2011), hingga Laskar Semut Merah (2014).

Jarang hadirnya film-film bergenre ini tentunya membuat variasi tontonan anak-anak Indonesia berkurang. Banyak dari tontonan anak-anak didominasi oleh animasi-animasi luar, seperti Zootopia (2016) dan yang terakhir, Cars 3 (2017). Bukannya menyalahkan pilihan tontonan, tetapi lebih kepada variasi yang disediakan saja.

Seperti pada awal review Naura dan Genk Juara di atas, menonton film musikal ini tentunya mengingatkan saya pada Petualangan Sherina. Keduanya punya persamaan, beberapa di antaranya adalah punya protagonis yang sama-sama anak perempuan (Sherina dan Naura), mengambil cerita petualangan, dan tentunya punya villain penculik.

 

Penamaan judul Petualangan Sherina juga dibuat karena Sherina pada waktu itu sedang tenar sebagai penyanyi cilik. Ini sama dengan Naura yang sekarang sedang meniti karier sebagai penyanyi cilik juga, walaupun bagian penamaan judul film entah memang ikut sama atau tidak.

Naura dan Genk Juara membawa fitur-fitur yang akrab untuk film musikal keluarga. Ada keluarga lengkap yang saling menyayangi, punya teman-teman yang baik dan ada juga yang menyebalkan, hingga penjahat yang ceria dan koplak abis. Film ini lalu menambahkan dan menekankan pada fitur proyek sains.

Dan film ini menggunakannya dengan baik sehingga jadi sangat menyenangkan untuk ditonton.

Sumber: Youtube

Anak-anak yang ikut dalam Kemah Kreatif tersebut menggunakan kreasi-kreasi berbasis sains mereka untuk mengejar pencuri satwa liar. Ada yang pakai roket air, drone, bahkan bom semangka.

Ini tidak bohong, memang benar bom semangka. Bom semangka ini diledakkan seperti ranjau. Melihat Trio Licik, terkena bom tersebut, plus dipresentasikan dengan slow-motionit’s a hell of fun!


Keunggulan utama film ini adalah lagu-lagunya yang sangat enak di telinga. Dengarkan mereka di halaman sebelah!

TENTANG PENULIS
Lazuardi Pratama

Merayakan film dan mengolok Liverpool.