Review Coco: Petualangan Melankolis Bocah Meksiko Menjadi Musisi

Kantong air mata bocor gara-gara Coco!!!!!

1511593211000

review coco

Studio Pixar dan Disney kembali lewat film animasi Coco yang lembut tetapi bersuara lantang dan melankolis tetapi menghangatkan hati. Simak review Coco berikut.

Beberapa tahun belakangan, Pixar terlihat mulai terbebani oleh sejarahnya sendiri. Film-film seperti The Good Dinosaur (2015), Finding Dory (2016), dan Cars 3 (2017) cenderung jatuh dibandingkan dengan film-film klasik mereka.

Sebagian dari kita tumbuh besar menonton film-film mereka, pra dan pasca-akuisisi Disney di tahun 2006. Film-film seperti trilogi Toy Story, Finding Nemo (2003), hingga Up (2009) selalu lekat dalam ingatan.


CONTINUE READING BELOW

Selalu Fresh Tiap Waktu, Inilah 10 Film Animasi Garapan Pixar Tersukses Sepanjang Sejarah

Film animasi Pixar menjadi salah satu yang ditunggu rilis di layar lebar karena selalu membuat penonton senang dari sisi cerita dan animasi yang bagus.


Studio Pixar pernah berjaya sebagai salah satu studio animasi paling disegani. Bersama pentolannya, John Lasseter, Pixar dibanding-bandingkan dengan studio legendaris Jepang, Ghibli.

Dengan disutradarai Lee Unkrich (Toy Story 3) dan Adrian Molina, Coco diharapkan mampu memperbaiki reputasi Pixar.

Sinopsis

Jagoan kita kali ini adalah Miguel Riviera (Anthony Gonzales), bocah 12 tahun asal Meksiko yang busananya seperti CJ dari GTA San Andreas. Ia punya mimpi menjadi seorang musisi. Namun apa daya, mama-papa larang.

Keluarga besar Riviera melarang keras adanya musik. Orang yang main gitar di jalanan depan rumah didamprat nenek Miguel, Abuelita (Renee Victor), bahkan bersiul saja haram! Usut punya usut, garis keturunan mereka pernah punya musisi terhebat se-Meksiko.

Namun apa gunanya dikenal satu bangsa jika tak mengenal keluarga sendiri. Kakek buyut Miguel diceritakan meninggalkan keluarganya demi mencapai cita-citanya menjadi pemusik tersohor. Sang anak dari keluarga yang jadi karut-marut itu adalah Coco (Ana Ofelia Murguia), buyut Miguel yang sudah pikun.

Pendek cerita, Miguel kemudian tersesat di Dunia Kematian (Land of the Dead) karena sembarang tangan mencuri gitar Ernesto de la Cruz, idolanya sekaligus musisi paling terkenal Meksiko. Bersama temannya yang sinting, Hector (Gael Garcia Bernal) dan seekor anjing buduk bernama Dante, Miguel memulai petualangannya.

Bukan Karya Pixar Terbaik, tapi Tetap Mampu Kuras Air Mata

Imajinasi tak terbatas selalu menjadi kekuatan utama film-film Pixar, selain tentunya kecakapan bercerita. Coco mengambil kisah dan budaya dari Meksiko, dari mulai yang kasat mata seperti penamaan, logat, dan busana hingga yang tak tampak seperti hubungan keluarga.

Orang-orang Latin dikenal punya kultur keluarga yang erat. Mereka mengenang dan mengingat masing-masing sanak saudara baik yang hidup maupun yang tiada. Sama seperti orang Indonesia, khususnya yang berkeluarga berdasarkan sistem marga.

Orang-orang Latin juga dikenal sangat hormat dan sayang pada sosok mama. Dalam film Coco ini, tokoh seperti nenek Abuelita dan nenek buyut Imelda digabarkan dominan. Eratnya hubungan keluarga inilah yang menjadi pesan utama Coco.

Lewat naskah Adrian Molina dan Matthew Aldrich, Coco membawa hubungan keluarga itu dalam bentuk produk budaya. Misalnya, keberadaan foto orang yang telah mati menjadi bukti bahwa keluarganya masih ada yang ingat. Foto itu kemudian menjadi unik, sebab ia punya banyak cerita di baliknya.

Dunia Coco terasa sangat kaya dengan banyaknya kisah dan budaya yang melatarbelakanginya. Contohnya saja si anjing buduk Dante yang ternyata modelnya diambil dari Xoloitzcuintli, anjing khas Meksiko.

Selain itu, kekayaan tersebut juga kemudian dikembangkan oleh para animator Pixar/Disney dengan gambar-gambar yang memukau, terutama Dunia Kematian yang warna-warni indahnya.

Namun, kekayaan dunia itu datang dengan dua sisi mata pisau. Untuk memperkenalkan dunia yang kompleks ini, Coco tak pelak terjatuh dalam jebakan eksposisi. Coco terlalu banyak menjelaskan dengan bahasa verbal pada awal film, terutama saat Miguel masih di Dunia Kehidupan.

Beberapa adegan saat Miguel baru saja masuk ke Dunia Kematian juga mudah ditebak. Cerita Coco menjadi lebih menarik ketika semua kebenaran mulai terungkap.

Film ini punya lagu-lagu yang catchy untuk didengar, terutama lagu Remember Me yang langsung mengingatkan saya pada When She Loved Me dalam Toy Story 2. Keduanya ini tipe lagu-lagu melankolis tentang kehilangan yang selalu efektif menyayat hati.

Maka, ketika lagu tersebut digabungkan secara efektif dengan pesan sederhana tentang keluarga dan menggapai mimpi, kantong air mata jebol begitu saja.

Sebagai kesimpulan: Coco memang film animasi terbaru kolaborasi Pixar dan Disney ini tak sesolid dan sekuat film-film klasik mereka sebelumnya. Namun kombinasi kekayaan cerita, pesan yang kuat, dan musik emosional saya kira sudah cukup menggembirakan bagi Pixar.

Diedit oleh Doni Jaelani

Share this article

TENTANG PENULIS
Lazuardi Pratama

Merayakan film dan mengolok Liverpool.