Berkarya Sambil Ngikutin Standar Orang Lain? Bikin Standarmu Sendiri!

Setiap orang yang berjiwa kreatif pasti punya tokoh idola yang mendorong mereka untuk semangat berkarya. Tetapi, baguskah kalau kita terlalu memaksakan diri menjadi “orang lain” demi berkarya?

standar berkarya kreatif one punch man kapasitas

Setiap orang yang berjiwa kreatif pasti punya tokoh idola yang mendorong mereka untuk semangat berkarya. Tetapi, baguskah kalau kita terlalu memaksakan diri menjadi “orang lain” demi berkarya?

Orang kreatif itu pada dasarnya memang tidak bisa nganggur. Ketika mereka melihat sesuatu yang bagus dan memuaskan, mereka mungkin akan menyulapnya menjadi sebuah karya yang fenomenal suatu saat kelak. Minimal, ide-ide yang melintas akan disimpan di dalam notes untuk dikaryakan.

Nah, salah satu inspirasi berkarya orang kreatif ini seringkali datang dari para kreator papan atas alias kreator yang sudah terkenal. Tak sedikit yang kemudian terobsesi dengan kreator-kreator ternama ini. Mulai dari cara berpikir, gaya hidup, hingga standar berkarya, semuanya diikuti mentah-mentah.

Pertanyaan krusialnya lantas muncul: baguskah kalau kita, sebagai kreator, mengikuti jalan hidup idola kita sedemikian rupa sampai terkesan melupakan identitas diri sendiri yang sebenarnya?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kami akan mengulas pentingnya mengenali kapasitas diri dalam kehidupan berkarya. Pada akhirnya, berkarya itu bukan cuma soal menuangkan ide, tetapi juga soal mengenal diri sendiri. Check it out!

1

Tiap Orang Punya Kapasitas Berbeda, Kenali Kapasitasmu

standar berkarya kreatif one punch man kapasitas

Sumber: Spot Me Bro

Mengenali diri sendiri sebelum terjun ke dunia berkarya adalah hal yang penting untuk kita cermati. Dengan begitu, kita bisa terhindar dari perasaan cemas atau insecure atau bahkan perasaan-perasaan seperti inferiority complex (merasa inferior) terhadap teman-teman seperjuangan yang sudah melangkah lebih jauh.

Kenapa sih kita perlu mengenai diri sendiri sebelum menjadi kreator yang hakiki?


CONTINUE READING BELOW

Suka Bikin Cerita? Sini, Belajar Cara Bikin Dialog yang Menarik!

Membuat dialog dalam penceritaan adalah salah satu poin yang gampang-gampang susah. Terus, bagaimana cara bikin dialog yang menarik? Simak di sini!


Sebab kreator yang sudah mengenali dirinya sendiri tahu betul apa genre yang digemarinya, siapa audiens yang akan dia sasar, berapa kali dia bisa posting karya, dan platform apa yang paling membuat perjalanan berkaryanya lebih nyaman. Singkatnya, dia punya rencana dan dia tahu ke mana harus melangkah.

Jadi, apa hal pertama yang harus kita kenali dari diri sendiri?

Kalau bicara soal genre dan style, itu bisa dicari sendiri, sebab itu termasuk ke dalam preferensi pribadi alias selera masing-masing. Yang paling esensial dari pengenalan diri itu sebenarnya adalah mengenali kapasitas diri. Jika kita berhasil mengenali hal ini, akan mudah bagi kita untuk menentukan gaya dalam berkarya.

standar berkarya kreatif one punch man kapasitas

Kapasitas Tiap Orang Berbeda. Sumber: Jalantikus

Kapasitas itu apa saja, sih?

Nah, kalau berbicara kapasitas, kamu bisa memulai dari pertanyaan-pertanyaan sederhana tentang kemampuanmu sendiri. Kita bikin daftar contoh pertanyaannya, yuk. Barangkali pertanyaan-pertanyaan ini bisa mempermudah kamu:

  1. Cerita jenis apa yang paling kamu kuasai?
  2. Gambar jenis apa yang bisa kamu buat?
  3. Lebih jago ngomik, bikin ilustrasi tunggal, atau nulis novel?
  4. Berapa kali kamu bisa posting karya dalam satu minggu?
  5. Kapan waktu efektif kamu berkarya?
  6. Silakan tambahkan sendiri …

Bagaimana? Cukup terbayang, bukan? Inti dari pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah untuk mengenali preferensi dan kemampuanmu sendiri. Tanyakan kepada kreator-kreator yang sudah profesional, mereka pasti sudah punya jawaban untuk masing-masing pertanyaan.

Masih belum yakin? Ayo kita lihat komikus Sweta Kartika dan Alex Irzaqi sebagai contoh. Walaupun mereka satu perguruan dan punya kemampuan menggambar yang setara, mereka punya kemampuan rilis karya yang berbeda, lho.

standar berkarya kreatif one punch man kapasitas

Alex – Sweta: Dua Master, Satu Perguruan, Beda “Jurus”

Kita bisa melihat Sweta Kartika mampu menelurkan beberapa komik secara bersamaan di penerbit yang berbeda-beda, sementara Alex Irzaqi punya preferensi yang berbeda soal itu. Alex mengatakan bahwa dirinya “tidak bisa multitasking” dan lebih suka “fleksibel”.

Fakta di atas membuktikan bahwa kreator profesional pun punya rasa dan kapasitas yang berbeda-beda.


Jadi, kita tidak boleh terinspirasi dari kreator lain?” Boleh! Biar tidak salah paham, lihat bahasan berikutnya, yuk!

Share this article

TENTANG PENULIS
Subject 09 Lite

Subject 09 Lite adalah singkatan dari Subject 09 Literature. Kami menyediakan bahan bacaan bermanfaat untuk mendorong kreativitas para kreator lokal. Motto kami adalah Care the Creativity, yang berarti kami peduli pada pertumbuhan kreativitas Indonesia. www.subject09.web.id