Review Forever Holiday in Bali: Ketika Artis K-Pop Temukan Cinta di Pulau Dewata

Forever Holiday in Bali penuh momen-momen menggelikan karena naskah yang terlalu memaksa dan pilihan aktor yang buruk. Caitlin Halderman menjadi penyelamat.

1515748238000
forever holiday in bali

Sumber: Sonamu Films

Forever Holiday in Bali penuh momen-momen menggelikan karena naskah yang terlalu memaksa dan pilihan aktor yang buruk. Caitlin Halderman menjadi penyelamat.

Distributor dari negeri gingseng Korea Selatan tampaknya mulai melirik pasar film Indonesia. Salah satu distributor raksasa CJ Entertainment sebelumnya telah ikut masuk dan sukses lewat film Sweet 20 (2017) dan Pengabdi Setan (2017).

Kali ini, distributor Showbox (The Chaser, A Taxi Driver) juga ikut berkompetisi dengan tidak hanya menjadi distributor, tapi juga ikut berkolaborasi dengan filmmaker Indonesia dalam hal produksi. Forever Holiday in Bali adalah film pertama mereka yang baru dirilis di bioskop Kamis, 12 Januari kemarin.

Sinopsis

Tidak hanya kolaborasi dari segi produksi film, tapi juga konten ceritanya. Forever Holiday in Bali bercerita tentang seorang selebritas K-Pop, Kay (Thunder, eks personel grup idola MBLAQ) yang menjalani syuting video klip di Bali.

Nahas, sesaat sebelum ia berangkat, ibunya meninggal. Bali ternyata pernah menjadi kenangan antara ibu dan Kay saat masih cilik. Alih-alih mengikuti arahan manajer, Kay yang stres malah kabur mencari pantai tempat ia dan ibunya dulu pernah liburan. Dalam pelarian tersebut, ia bertemu dengan Putri (Caitlin Halderman), seorang gadis Bali.

Putri diperalat oleh temannya seorang papparazi (Reza Aditya) untuk bertingkah seakan-akan pacar Kay agar ia bisa memalsukannya menjadi skandal. Namun, hubungan Kay dan Putri ternyata lebih dalam dan kuat daripada yang diduga, apalagi mereka punya misteri yang belum terpecahkan.

Mencoba Memadukan Korea dan Bali

Thunder dan Cailtin Halderman masing-masing berperan sebagai Kay dan Putri. Sumber: Sonamu Films

Forever Holiday in Bali tertangkap beberapa kali mencoba memadukan budaya Korea dan kearifan lokal Pulau Dewata. Percobaan ini dilakukan bahkan sampai dalam tahap paling memaksakan sekalipun.

Misalnya saja, ketika Kay dan Putri istirahat di Indomaret (ya ini benar Indomaret), Putri membelikan kimchi dalam kemasan dan Kay mengangguk-ngangguk saja. Ketika mereka sedang makan bersama di rumah Putri, Kay membuka kemasan kimchi tersebut dan makan di mangkuk yang telah disediakan.

Kakek dan nenek Putri mendelik, karena menganggap Kay mengabaikan makanan yang telah disediakan dan Putri menanggapi, “Kay tidak bisa makan kalau tidak makan kimchi.”

Esensi kejadian kimchi kemasan tersebut sebenarnya terlalu kabur karena tidak berkaitan dengan plot. Barangkali tujuannya memang untuk menegaskan kalau film ini merupakan kolaborasi Korea-Indonesia—yang sebenarnya tidak perlu harus lewat adegan kimchi itu.

Sumber: Sonamu Films

Ada juga yang lain, yaitu ketika Kay dan manajernya baru saja selesai syuting di suatu puri. Saya tidak tahu kebutuhan syuting video klip seperti apa yang diinginkan Kay dan manajernya sehingga harus berlokasi di puri. Namun, alih-alih memilih salah satu puri sebagai lokasi, Forever Holiday in Bali justru menempelkan gambar digital puri sebagai background percakapan Kay dan manajernya.

Ini serius, saya tidak bercanda. Sebuah produksi kolaborasi Korea dan Indonesia menggunakan latar puri tapi tidak mampu syuting di lokasi betulan dan mengeditnya seperti sinema klasik di Indosiar.

Celakanya, adegan tersebut berjalan cukup lama dengan potongan yang buruk dan gambar puri yang kabur pecah-pecah. Lagipula, adegan ini tak perlu-perlu amat menggunakan puri sebagai latar belakang, sebab hanya berisi si manajer yang menyemangati Kay yang sedang bersedih. Syuting di hotel atau di dalam tenda saja lebih masuk akal.


Selain kejadian puri ini, pendalaman karakternya juga tak cukup meyakinkan untuk diberi simpati. Simak seperti apa di halaman sebelah!

TENTANG PENULIS
Lazuardi Pratama

Merayakan film dan mengolok Liverpool.