Wah, Devilman Crybaby Dikritik Habis-Habisan Akibat Hal Ini!

Meskipun banyak yang memuji dan kagum dengan hasil remake dari serial manga legendaris Devilman berjudul Devilman Crybaby ternyata ada pihak yang mengkritik habis-habisan serial ini. Wah kenapa ya?

1517393405000

Meskipun banyak yang memuji dan kagum dengan hasil remake dari serial manga legendaris Devilman berjudul Devilman Crybaby ternyata ada pihak yang mengkritik habis-habisan serial ini. Wah kenapa ya?

Serial remake dari manga legendaris karya Go Nagai Devilman berjudul Devilman Crybaby memang sukses membuat seluruh dunia berdecak kagum dan memujinya karena animasi dan cerita yang ditampilkan benar-benar berbeda dari anime pada umumnya dan mampu mengenalkan Devilman kepada generasi millenial di seluruh dunia.

Meskipun menuai banyak pujian dari seluruh dunia, serial anime yang tayang di Netflix ini ternyata tidak luput dari yang namanya kritikan.

Sebuah kritikan tajam nan pedas kepada Devilman Crybaby datang dari Youhei Kurose yang merupakan seorang seniman, kritikus seni, dan kritikus anime. Ia melemparkan kritiknya tersebut melalui akun Twitternya.

Setelah mengkritik habis-habisan Pop Team Epic, ia menyatakan bahwa Devilman Crybaby mempunyai masalah yang jauh lebih serius ketimbang anime dua orang cewek yang bermain-main dengan meme dan referensi pop kultur.


CONTINUE READING BELOW

Jangankan Kamu, Sutradara Anime Pop Team Epic Pun Bingung dengan Anime-nya!

Kegilaan dari adaptasi anime Pop Team Epic memang tidak dapat dimengerti semua orang. Bahkan sutradara anime ini saja sampai kebingungan sendiri dalam memamahami animenya.


Dia mengatakan bahwa orang yang memuji serial yang dibuat oleh Masaaki Yuasa ini cenderung mengulas dan membahas anime tersebut sebagai “anime tingkat internasional” atau “anime yang dapat bersaing secara global.”

Gaya Yuasa yang berbeda dengan anime kebanyakan yang biasanya mengandalkan karakter imut dengan gaya gambar biasa pada Devilman Crybaby disinyalir membuat Kurose membuat pernyataan pedas ini.

Menurut Kurose, pemikiran semacam ini bermuara pada “otaku anime = Jepang” dan “subkultur stylish dan keren = populer di seluruh dunia.” Otaku anime sendiri mungkin ditunjukkan dengan kebanyakan anime yang dibuat untuk memuaskan hasrat otaku ketimbang menampilkan visual yang berbeda seperti anime buatan Masaaki Yuasa.

Kurose menjelaskan bahwa menurutnya perbedaan ini tidak benar, tapi menurutnya Yuasa ditunjuk untuk membuat anime ini karena orang percaya bahwa anime yang tidak terlihat seperti anime memiliki kesempatan lebih besar untuk berhasil secara internasional daripada “anime otaku.”

Akibatnya, Kurose mengatakan serial ini sayangnya hanya menjadi “anime subkultur stylish“.

Ia juga menilai Devilman Crybaby menjadi sebuah “anime level internasional” adalah “penyakit domestik” karena gagal menerapkan budaya anime Jepang. Ia menjelaskan cerita, naskah, dan pengarahan dari anime ini cukup jelek dan mengatakan bahwa anime yang tayang di TV mempunyai kualitas jauh lebih baik.

Kritik ini langsung ditanggapi oleh sang sutradara Masaaki Yuasa di akun Twitternya dan langsung menjawab, “salah”.

Dia langsung menyanggah perkataan Kurose dan menjawab,

“Anda bebas mengatakan opini apapun yang Anda suka. Saya tidak bermaksud mencari kesalahan dengan pendapat orang biasa. Tetapi jika opini tersebut adalah kenalan saya sendiri, saya akan keberatan. Karena mereka tidak memiliki alasan untuk tidak sengaja menghina orang-orang yang menurut saya melakukan pekerjaan dengan baik, saya tidak memiliki alasan untuk diam.”

Terkait sanggahan tersebut, Kurose menanggapi positif tanggapan dari Yuasa tetapi ia tidak mengubah pandangan dan kritikannya.

Selain itu, dia mengatakan bahwa orang-orang mengkritik penyebutannya tentang konflik “otaku vs. subkultur”. Dia menjelaskan bahwa dia menginginkan komentar tersebut untuk menunjukkan bagaimana budaya pop Jepang bisa terkubur akibat pengaruh dari luar.

Kata “subkultur” di dalam bahasa Jepang mempunyai arti sama di Indonesia yaitu bagian dari suatu kultur. Tetapi, di Jepang kata ini mempunyai arti spesifik terutama menyangkut budaya otaku.

Konsep “otaku vs. subkultur” sendiri menjadi topik diskusi di Jepang semenjak tahun 90an. Konflik antara kedua istilah tersebut sebagian disebabkan oleh usaha untuk membedakan “budaya otaku” dari lebih banyak “subkultur” arus utama yang tidak mewakili “budaya otaku.”

Namun, beberapa orang sekarang percaya bahwa konflik “otaku vs subkultur” dibuat-buat atau sudah ketinggalan zaman.

Mungkin kalau di Indonesia kasus ini sama seperti kejadian dimana ada yang bilang bahwa kartun dari Amerika itu bukan anime dan anime asli itu datangnya dari Jepang. Padahal negeri Cina juga sekarang sudah membuat anime dengan staf Jepang di dalamnya.

Diedit oleh Fachrul Razi

Share this article

TENTANG PENULIS
Luthfi Suryanda

Penyiar dan Tukang Kritik Anime, Musik, Film di blog pribadinya RE:PSYCHO. Senang akan hal berbau senang-senang. Sekarang belajar caranya menaklukkan industri pop kultur di Asia Tenggara