Kenapa Sih di Dragon Ball Super Tidak Ada Darah? Ini Penyebabnya!

Mungkin kamu bingung: kenapa sih Dragon Ball Super tidak ada darah? Padahal seri Dragon Ball asli cukup berdarah. Ini lho penyebabnya!

1517920236000

Untuk yang bertanya-tanya kenapa di Dragon Ball Super tidak ada darah, penjelasan ini mungkin bisa memuaskan rasa ingin tahumu.

Benarkah di Dragon Ball Super tidak ada darah? Sebagai bahan pembanding, mari kita lihat apa yang terjadi saat lengan Piccolo lepas di Dragon Ball lama.

Kalau kamu bingung, memang di awal-awal darah Piccolo berwarna merah. Baru kemudian darahnya menjadi ungu.

Lalu di Dragon Ball Super, saat Piccolo serta duo Namek Saonel dan Pirina kehilangan lengan, efeknya begini.

Ada cairan yang muncrat, tapi warnanya kehijauan, bukan ungu maupun merah. Itu pun jumlahnya sama sekali tak bisa dibandingkan dengan yang di seri Dragon Ball lama. Apa yang terjadi?

Sensor di Jepang Semakin Ketat

Ya, bukan hanya Indonesia saja negara yang memperketat sensor di televisi. Di Jepang pun badan sensornya terus mengetatkan penampilan dari adegan-adegan yang dinilai kurang pantas.

Pernah lihat JoJo’s Bizarre Adventure: Stardust Crusaders? Setiap Jotaro merokok, seluruh mulutnya ditutupi oleh bayangan hitam. Kamu harus nonton blu-ray untuk menyaksikan adegan ini tanpa diganggu. Padahal di Rurouni Kenshin dulu saja, yang serial tahun 90an, Saito dapat merokok dengan bebas.


CONTINUE READING BELOW

Pembahasan Dragon Ball Super 126: Vegeta Menggunakan Jurus Bunuh Diri?!

Dragon Ball Super 126 menunjukkan bagaimana Vegeta mencoba menyingkirkan Dewa Kehancuran Toppo: dengan jurus bunuh diri yang ia gunakan untuk mencoba melenyapkan Buu!


Masih di Stardust Crusaders juga, bila organ seseorang berlubang, ada bayangan hitam yang menutupinya.

Kemudian untuk kasus fanservice nudity, penggunaan kilau cahaya atau asap untuk menutupi tubuh karakter juga sering dilakukan.

Nah, anime Dragon Ball pertama diputar di tahun 1986. Saat itu, standar sensor di Jepang masih lebih rendah dari sekarang. Bahkan adegan kekerasan dengan darah dan organ muncrat di Fist of North Star saja dapat tersaji dengan bebas.

Sekarang, kekerasan, merokok, dan fanservice sudah lebih diamati. Jadi studio tidak bisa dengan bebas membuat pancuran darah, terutama untuk serial yang ditayangkan di televisi. (Serial yang ditujukan ke blu-ray, atau versi blu-ray anime TV, kadang lebih bebas dalam hal ini).

Bahkan sebenarnya bukan darah saja. Masih ingat petarung Universe 4 yang mencoba menggoda Master Roshi?

Saat dia menggoda Roshi, pakaian gadis ini tetap tergolong cukup sopan. Paling hanya bagian kulitnya yang terlihat lebih banyak.

Sementara itu, di seri Dragon Ball asli Krillin menarik turun pakaian Bulma, memperlihatkan dadanya, agar Master Roshi mimisan. (Adegan ini juga disensor di televisi Indonesia tentunya).

Secara keseluruhan, unsur kekerasan dan sensualitas yang diizinkan di TV Jepang sudah lebih ketat dibanding tahun 80an akhir.

Dragon Ball Super Ditarget untuk Semua Umur

JoJo ditarget untuk penonton remaja hingga dewasa. Karenanya adegan seperti Jotaro merokok atau kekerasan brutal tetap ada, hanya disensor dengan selubung hitam saja.

Nah, faktor lain Dragon Ball Super tidak ada darah adalah karena seri yang satu ini ditargetkan untuk semua umur. Jadi mindset para animator sejak awal adalah tidak menambahkan darah, tidak memberi adegan sensual berlebihan, dan sekalian saja tidak ada rokok.

Seri ini juga ditayangkan di jam prime time untuk anak-anak, seperti di Indonesia dulu: Minggu pagi jam 09.00 sampai 09.30. Lengkaplah alasan para animator untuk menahan diri agar tidak menyajikan darah.


Nah, itulah penjelasan kenapa Dragon Ball Super tidak ada darah. Bagaimana pendapatmu? Apakah ketiadaan darah dan kekerasan berlebihan ini mengganggu kenikmatanmu dalam menonton? Sampaikan di kolom komentar!

Silakan juga share dan tag artikel ini ke teman-temanmu yang penasaran terhadap topik ini!

Share this article

TENTANG PENULIS
fachrul_run

Novelis yang telah menulis cerpen Apollyon di Fantasy Fiesta 2010, Selamanya Bersamamu di Fantasy Fiesta 2011, serta novel Hailstorm dan Redfang untuk seri Vandaria Saga. Menyukai dunia video game, literatur, komik, dan tabletop game. Berharap suatu saat nanti bisa menguasai dunia lewat karya-karyanya.