Mengapa Rating Film Black Panther Mendapat Label Dewasa di Indonesia? Berikut Penjelasannya!

Kenapa ada perbedaan rating film Black Panther di Indonesia dan negara lainnya? Simak penjelasannya!

Di antara kalian pasti ada yang bertanya-tanya kenapa rating film Black Panther mendapat label 17+ dari Lembaga Sensor Film?  Padahal di negara Amerika Serikat, film ini mendapat rating PG-13, alias untuk usia tiga belas tahun ke atas dengan bimbingan orang tua. Apa yang menyebabkan perbedaan rating ini? Berikut penjelasannya?

Black Panther sukses menggebrak seluruh bioskop Indonesia tepat pada hari Valentine kemarin. Namun yang menjadi pertanyaan adalah kenapa rating-nya di Indonesia kok dapat 17+ ? Untuk mengetahuinya, mari kita belajar soal penerapan rating sebuah film.

Masih ingat kasus keluhan ibu-ibu yang bawa anak kecil pas nonton film ini?

Sistem rating adalah sistem pengklasifikasian  tayangan atau film sesuai dengan kategori usia sasaran penontonnya. Metode  ini dilakukan berdasarkan penilain pada konten-konten vital yang terdapat dalam sebuah film. Ada beberapa rating film yang dikenal masyarakat dan ternyata juga diterapkan dalam acara siaran televisi.

Misalnya rating Remaja (R) dan Bimbingan (BO) akan diberikan pada suatu film jika terdapat salah satu konten seperti penggunaan bahasa dan gestur tubuh aktornya yang dinilai kurang tepat untuk dilihat oleh anak-anak. Jika ada film yang dinilai aman untuk ditonton oleh penonton dari kalangan anak-anak hingga  dewasa maka akan diberi rating semua umur (SU).

Pertimbangan pemberian rating juga tak bisa dilakukan sembarangan. Hal itu ditujukan agar tak ada pengekangan kreativitas setiap pembuat film dan juga melindungi masyarakat dari konten-konten yang bisa merusak moral masyarakat jika tak bisa diterima dan disaring dengan baik oleh para penontonnya.

Jadi, sistem rating berfungsi untuk memberi informasi atau peringatan dini mengenai konten yang sekiranya akan disajikan oleh sebuah film. Masyarakat bisa mengetahui  dan mewaspadai isi muatan film agar tak sampai terpengaruh oleh efek negatif konten tersebut. Intinya dengan mengenal label rating, film bisa dinikmati tanpa harus ditakutkan akan membawa dampak buruk bagi perkembangan psikologis penontonnya.

Black Panther

“Lah, katanya mau bahas rating film kita, Mas.”


CONTINUE READING BELOW

5 Kasus Kecanduan Game Paling Parah, Dijamin Bikin Merinding!

Bermain game memang menjadi aktivitas paling mengasyikan. Jika sudah lelah berpikir, game bisa menjadi solusi untuk mengembalikan pikiran kita untuk menjadi fresh kembali. Namun bila berlebihan, game bisa menjadi sangat buruk. Bahkan diantaranya menjadi lima kasus kecanduan game paling fatal.


Bagaimana dengan Black Panther? Mengapa rating film di Indonesia dan di Amerika bisa berbeda? Jawabannya cukup sederhana, yaitu standar moral setiap negara yang berbeda satu sama lain. Di Amerika, film ini dianggap masih tergolong cukup aman untuk ditonton oleh anak-anak usia minimal tiga belas tahun asalkan dibimbing dan diawasi secara ketat oleh orang tua. Hal itu terjadi karena konten yang sekiranya bersifat cukup eksplisit menurut orang Indonesia dirasa masih wajar dinikmati oleh ABG dari Amerika.

Menurut penulis sendiri, film ini juga tak separah film superhero vulgar seperti Deadpool atau bermuatan drama tragis nan sadis ala Logan. Hanya saja pandangan itu tak berlaku bagi Lembaga Sensor Film (LSF). Dengan berbagai pertimbangan, bisa jadi mereka memperkirakan konten yang terdapat di dalamnya seperti adegan romantis dan perilaku tak senonoh suatu tokoh dalam film ini tak boleh dinikmati penonton di bawah tujuh belas tahun.

Protes soal rating film Black Panther di Indonesia? Boleh saja, tapi kita juga harus memikirkan moral generasi penerus bangsa jika sampai terpapar oleh konten-konten yang tak sesuai dengan nilai dan norma sosial. Sudah bagus film Black Panther bisa rilis di Indonesia tanpa harus mengalami pencekalan. Toh, kita juga masih bisa menikmati versi penuhnya jika membeli Bluray-nya secara legal, ‘kan?

Sumber:  Nyoozee.com, diedit oleh Fac hrul Razi

Share this article

TENTANG PENULIS
Guntomo

Guess what?