Review Kulari ke Pantai: Keluar Bioskop dengan Perasaan Bahagia

Dari orang yang sama di balik Petualangan Sherina dan Laskar Pelangi, film Kulari ke Pantai ini sangat menyenangkan dan menghangatkan hati. Sa keluar bioskop dengan perasaan bahagia.

1530446417000

Meski beberapa kali mood rusak karena product placement yang kurang mulus, sa tidak berhenti tersenyum saat dan sesudah menonton Kulari ke Pantai. Banyak pelajaran positif, banyak kebahagiaan, juga banyak kehangatan. Simak review Kulari ke Pantai berikut ini.

Film anak-anak adalah genre film yang cukup jarang tayang di bioskop Indonesia yang dipenuhi oleh horor, komedi, dan drama romantis. Untuk bisa menikmati film yang bisa dinikmati anak, kita masih bergantung pada film animasi dari luar negeri seperti produk Disney dan Pixar.


CONTINUE READING BELOW

7 Film Mandarin yang Selalu Ada di Hati Anak Generasi 90an

Saking populernya film Mandarin saat itu, mungkin kamu pun masih ingat dengan 7 film Mandarin yang pernah mengisi masa kecilmu ini.


Padahal, film anak punya sejarah yang cukup terang dalam lanskap film Indonesia. Petualangan Sherina (2000) misalnya, menjadi pilar kebangkitan film nasional di akhir dekade 90-an.

Beberapa tahun setelahnya, film Laskar Pelangi (2008) menjadi salah satu film Indonesia terlaris dengan raihan 4,7 juta penonton sebelum baru bisa disalip Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part 1 delapan tahun kemudian.

Seperti dikutip dari CNN Indonesia yang mengutip siaran pers Miles Films, jumlah film anak-anak tidak lebih dari 15 judul dari 500 judul film Indonesia selama kurun waktu 5 tahun belakangan. Maka dari itu, keresahan produser Mira Lesmana dan sutradara Riri Riza sebenarnya masuk akal.

Upaya mereka (dan filmmaker Indonesia lain) untuk membuat film anak patut diapresiasi. Selain itu, Kulari ke Pantai ini juga ditunggu-tunggu sebab baik Mira maupun Riri adalah orang yang sama dengan orang yang membikin Petualangan Sherina dan Laskar Pelangi.

Jadi, kita sebagai penonton bisa mengharapkan kualitas.

Sebelum masuk review Kulari ke Pantai, tonton trailer dan sinopsisnya dulu sebagai berikut.

Sinopsis

Film yang judulnya diambil dari petikan puisi Rangga di Ada Apa dengan Cinta (2002) ini bercerita tentang petualangan/ road-trip seorang ibu bernama Uci (Marsha Timothy) bersama putrinya Sam (Maisha Kanna).

Keduanya berencana melakukan perjalanan darat sejauh 1.025 km dari Jakarta ke Banyuwangi demi menemui peselancar idola Sam di Pantai G-Land.

Akan tetapi sebelum berangkat, keduanya kedatangan sepupu Sam yang bernama Happy (Lil’li Latisha) saat kumpul keluarga di Jakarta. Happy yang cenderung sombong dan lebih suka bermain ponsel pintar membuatnya tak cocok dengan Sam yang lebih suka berpetualang di alam.

Oleh karena sering cekcok, ibu Happy, Kirana (Karina Suwandi) menyuruh Happy untuk ikut perjalanan Uci dan Sam.

Menghangatkan Hati

 

Sejak dari trailer, kita sudah bisa merasakan kebahagiaan dan kehangatan film Kulari ke Pantai ini.

Lagu temanya yang dibawakan oleh RAN berkontribusi besar. Namun, kebahagiaan dan kehangatan itu sejatinya datang dari kombinasi optimisme dan kepolosan ala film anak dengan perkembangan karakter ala road movie.

Dinamika tokoh anak Sam dan Happy adalah bahan bakar utamanya. Sam adalah tipe—sa mengutip ucapan Happy—“anak kampung” yang senang nge-bolang. Sifatnya yang ekspresif dan pemberani mengingatkan kita pada Sherina.

Sementara sepupunya Happy adalah “kebalikan”-nya. Ia menasbihkan dirinya sendiri “glam girls” dan lengket dengan gawai. Karakter Happy ini mewakili stereotip generasi anak-anak Indonesia masa kini yang akrab dengan teknologi dan lebih global. Happy fasih berbasa Inggris.

Sejak awal, kita melihat seperti apa dua karakter yang berbeda kepribadian ini bertemu dan melakukan perjalanan bersama-sama di dalam mobil. Mereka lucu, polos, dan untungnya, kedua aktris cilik ini punya kemampuan akting yang baik sehingga interaksi mereka terasa dinamis dan natural.

Bagi anak-anak yang menonton, kisah Sam dan Happy ini relatable dan menyenangkan. Sementara bagi penonton yang lebih dewasa, mereka merangsang ingatan masa kecil, menimbulkan perasaan gemas dan nostalgik.

Hal itu kemudian dikombinasikan dengan elemen road movie. Road movie adalah film perjalanan yang dikatakan berhasil jika ada perubahan sikap dari karakter yang melakukan perjalanan tersebut.

Perkembangan karakter itulah yang membuat penonton mudah untuk tersentuh. Dalam konteks Kulari ke Pantai ini, ia adalah tentang bagaimana Sam dan Happy belajar untuk toleran dan menerima satu sama lain.

Bayangkan saja Petualangan Sherina digabungkan dengan 30 Hari untuk Selamanya (2007), bedanya, kali ini perjalanannya dari, oleh, dan untuk anak-anak.

Film ini juga tak luput dari cacat minor, seperti product placement-nya yang kurang mulus. Simak di kelanjutan review Kulari ke Pantai di halaman sebelah.

TENTANG PENULIS
Lazuardi Pratama

Merayakan film dan mengolok Liverpool.